lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Tak Ingin Mati Kelaparan, Banyak Orang tua di Afganistan Menikahkan Anak Gadis Masih Kecil



Ketika kemiskinan dan ketidakpastian meningkat, pernikahan anak melonjak di Afghanistan dengan keluarga 'menikahkan' anak perempuan mereka di bawah umur dengan imbalan mas kawin, kata kelompok hak asasi manusia.

Terjebak di antara kesulitan ekonomi dan konflik, seorang pekerja pabrik batu bata di Afghanistan, Fazal, menuturkan bahwa situasi ekonomi telah menghancurkan Afghanistan dan telah memberikan pilihan yang sulit. Memilih menikahkan anak perempuannya yang masih kecil, atau harus mengambil risiko keluarga mati kelaparan.

Bulan lalu, dia menerima pembayaran mahar sebesar 3.000 dolar setelah menyerahkan putrinya yang masih berusia 13 dan 15 tahun kepada pria yang usianya lebih dari dua kali lipat. Jika uangnya habis, Fazal mengatakan juga mungkin harus menikahkan anaknya yang berusia tujuh tahun, katanya.

"Saya tidak punya cara lain untuk memberi makan keluarga saya dan melunasi hutang saya. Apa lagi yang bisa saya lakukan," katanya kepada Thomson Reuters Foundation dari ibukota Afghanistan, Kabul. "Saya sangat berharap saya tidak harus menikahkan putri bungsu saya."

Pernikahan anak kecil ini telah meningkat seiring dengan melonjaknya kemiskinan sejak Taliban merebut kekuasaan 100 hari lalu pada 15 Agustus 2021. Orang tua yang miskin bahkan membujuk anak perempuannya dengan imbalan mas kawin, kata aktivis pejuang hak-hak perempuan. 

Mereka memperkirakan tingkat pernikahan anak terjadi bahkan sebelum Taliban mengambil posisi kekuasaan. Jauh sebelum itu pernikahan anak kecil sudah terjadi bahkan dua kali lipat jumlahnya. 

"Ini melumpuhkan hati (saya) mendengar cerita-cerita ini ... Ini bukan pernikahan. Ini pemerkosaan anak," kata juru kampanye kata aktivis hak-hak perempuan Afghanistan, Wazhma Frogh.

Dia mengatakan dia mendengar kasus ini setiap hari  dan kasus ini sering melibatkan anak perempuan di bawah usia 10 tahun. Meskipun tidak jelas apakah anak perempuan itu akan dipaksa untuk berhubungan seks sebelum mencapai pubertas.

Badan Perlindungan anak-anak, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa UNICEF mengatakan ada laporan yang kredibel tentang keluarga yang menawarkan anak perempuan yang masih berusia 20 hari untuk pernikahan di masa yang akan datang dengan imbalan uang mahar.

Tidak hanya lumpuh oleh kekeringan dan keruntuhan ekonomi, Afghanistan juga akan mengalami krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menurut badan-badan PBB.

Saat musim dingin tiba, laporan tersebut memperkirakan bahwa akan ada jutaan orang berada di ambang kelaparan, dan 97% rumah tangga bisa jatuh di bawah garis kemiskinan pada pertengahan 2022.

Kembalinya kelompok Taliban secara tiba-tiba ke kekuasaan, membuat aset miliaran dolar milik Afghanistan dibekukan di luar negeri dan sebagian besar bantuan internasional bahkan dihentikan. Harga pangan pun telah meroket dan jutaan orang jadi pengangguran.

Frogh mengatakan keluarga menikahkan anak perempuan mereka untuk mengurangi jumlah anggota keluarga yang harus mereka mereka makan. Untuk mendapatkan mas kawin, yang biasanya mahar akan berkisar antara 500 dolar hingga 2.000 dolar. Bahkan anak-anak yang lebih muda memasang tarif yang lebih tinggi.

Sebagian Orang tua di Afganistan juga menyerahkan anak perempuan mereka demi melunasi hutang. Frogh mengatakan bahwa ada sebuah kasus di mana seorang tuan tanah telah mengambil gadis sembilan tahun milik warga yang tinggal di rumah sewaan. Pengambilan anak perempuan itu diakibatkan warga yang tinggal tidak mampu lagi membayar rumah sewaan. 

Di barat laut Afghanistan, Frogh mengatakan bahkan ada seorang bapak yang rela meninggalkan kelima anaknya di sebuah masjid, karena dia tak mampu lagi memberi makan. 

"Jumlah kasus ini telah meningkat pesat karena sebab kelaparan. Orang tidak punya apa-apa dan tidak bisa memberi makan anak-anak mereka," kata Frogh, aktivis sekaligus pendiri Organisasi Studi Perempuan & Perdamaian, yang bekerja dengan para pemimpin perempuan akar rumput di seluruh negeri.

"Ini sepenuhnya ilegal, dan tidak diperbolehkan dalam agama," tambahnya.

UNICEF mengatakan telah memulai program bantuan tunai untuk membantu mengurangi risiko kelaparan dan pernikahan anak, dan bekerja sama dengan para pemimpin agama untuk menghentikan upacara yang melibatkan gadis di bawah umur.

Sebelum Taliban mengambil alih, usia pernikahan minimum yang sah untuk anak perempuan adalah 16 tahun – di bawah usia minimum yang diakui secara internasional yaitu 18 tahun.

Taliban mengatakan mereka hanya mengakui hukum Syariah bahwa pernikahan perempuan tidak disyaratkan usia minimum.

Jumlah Utang yang Semakin Meningkat

Buruh yang bernama Fazal mengatakan permasalahan ini dimulai ketika krisis ekonomi yang  menghentikan pekerjaan konstruksi. Seperti rekan-rekan kerjanya, dia telah dibayar di awal– 1.000 dolar untuk enam bulan kerja.

Dengan permintaan batu bata yang mengering, bosnya kemudian meminta agar uang muka tersebut dikembalikan. Faizal tidak mampu mengembalikan sebab semua uang itu telah digunakan untuk pengobatan istrinya yang sakit.

Penduduk setempat membenarkan bahwa banyak pekerja yang terpaksa menikahkan gadis-gadis kecil itu untuk membayar uang muka yang telanjut diterima.

Data nasional terbaru menunjukkan 28% anak perempuan di Afghanistan menikah sebelum mereka mencapai usia 18 tahun, dan 4% sebelum usia 15 tahun.

Tetapi Frogh dan aktivis hak-hak perempuan Afghanistan Jamila Afghani memperkirakan bahwa setengah dari anak perempuan itu akandipaksa menikah sebelum mereka berusia 18 tahun jika krisis ini berlanjut.

Sementara, anak perempuan yang menikah di usia muda berisiko lebih tinggi mengalami pemerkosaan dalam perkawinan, kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi, dan komplikasi kehamilan yang berbahaya.

"Itu menghancurkan hidup gadis-gadis kecil itu- kesehatan psikologis mereka, emosional, fisik dan bahkan masalah seksualitas mereka," kata Afghani, presiden Liga Internasional Wanita untuk Perdamaian dan Kebebasan bagian Afghanistan, yang memiliki 10.000 anggota di seluruh negeri.

"Gadis-gadis ini sering diperlakukan sebagai pelayan, sebagai budak."

Afghani mengatakan para aktivis belakangan ini melakukan intervensi untuk menghentikan pernikahan seorang gadis sembilan tahun dengan seorang pria berusia 30-an untuk mahar 50.000 Afghani setara $ 538 dolar yang terjadi di provinsi Ghazni di tenggara.

Sekolah Ditutup
Pakar hak asasi mengatakan bahwa penutupan sekolah menengah perempuan oleh Taliban juga mendorong orang tua untuk menikahkan anak perempuan mereka.

"Dua faktor risiko terpenting untuk mendorong pernikahan anak adalah kemiskinan dan kurangnya akses ke pendidikan," kata Heather Barr dari Human Rights Watch, yang telah bekerja dengan perempuan di Afghanistan selama lebih dari enam tahun.

Taliban, yang melarang pendidikan anak perempuan ketika terakhir berkuasa dari 1996-2001, mengatakan mereka pada akhirnya akan dapat melanjutkan sekolah, tetapi belum mengklarifikasi dalam bentuk pendidikan seperti apa. 

Para donatur ingin menggunakan bantuan sebagai stimulus untuk memastikan kalau Taliban benar-benar menjunjung tinggi hak-hak anak perempuan dan perempuan pada umumnya.

Tetapi Barr mengatakan bantuan penyelamatan jiwa anak-anak perempuan itu yang sangat diperlukan segera. Sebab penundaan bantuan hanya akan membuat lebih banyak keluarga miskin dan lebih banyak anak perempuan berisiko menikah.

"Anda akan membuat mereka perempuan kelaparan sampai mati jika tidak ikut terlibat membantu hak-hak perempuan," katanya.

Source : Daily Sabah 
Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar